Kisahku
Kisah Sebuah Perjalanan
Kisah ini merupakan perjalananku selama hampir satu tahun
sekolah di sebuah Madrasah Aliyah, tepatnya perjalanan ketika aku berangkat
maupun ketika pulang sekolah. Kisah ini dimulai ketika aku pertama kali
berangkat sekolah menggunakan sebuah alat transportasi yang selalu setia
menemaniku, bus Trans Jogja sebutannya.
Awal masuk sekolah aku yang masih menggunakan seragam
putih biru, karena seragam putih abu-abu yang seharusnya sudah mulai aku
kenakan masih berada di tukang jahit. Sebenarnya aku agak malu karena masih
mengenakan seragam Madrasah Tsanawiyah itu ketika berada di dalam bus TJ
(singkatan untuk bus Trans Jogja), maka dari itu aku putuskan untuk memakai
jaket meskipun tetap saja terlihat seragam putih biruku itu.
Aku juga masih ingat ketika itu MOS dan MOM masih
berlangsung dan karena kegiatan itulah setiap hari aku pulang sekitar jam 4
sore. Tetapi untunglah bus TJ kesayanganku masih setia menunggu ku pulang karena
memang bus itu beroperasi hingga malam. Tetapi karena aku masih sangat awam
mengenai penggunaan jalur bus TJ itu, akupun sempat memilih jalur bus yang memakan
waktu cukup lama, yaitu ketika perjalanan pulang.
Pada saat itu, aku menggunakan bus TJ jurusan 1B dan bus
itu beropasi melewati shelter ( semacam tempat pemberhentian bus TJ) yang
berada di seberang jalan Rumah Sakit Panti Rapih. Untungnya, ketika pulang
kadang aku ditemani oleh teman satu kelasku, sebut saja namanya Karin karena
kebetulan rumahnya berada tidak jauh dari shelter dimana aku menunggu bus TJ
jalur 1B. Yang membuatku menarik di awal perjalananku ini adalah ketika aku
selalu pulang sekolah sore dan sampai sekolah diatas pukul 7 malam. Aku heran,
kenapa perjalananku dari sekolah ke rumahku yang berada di daerah Prambanan
terasa begitu jauh hingga memakan waktu 2 jam, padahal perjalananku ketika
berangkat sekolah menggunakan bus TJ saja hanya memakan waktu sekitar 45 menit
saja. Bahkan pernah terjadi ketika aku sampai rumah, jam sudah menunjukkan
pukul 8.30 malam. Orang tuaku pun sempat khawatir karena aku selalu pulang
malam. Setelah aku selidiki, ternyata perjalananku pulang sekolah terasa jauh
karena bus yang aku tumpangi tidak langsung menuju ke arah Prambanan, tetapi
harus menuju shelter-shelter yang tidak searah, wajar saja aku selalu pulang
malam.
Akhirnya, atas saran kakak kelas XII IPS yang sering
kupanggil Mbak Latifah aku pulang menggunakan bus 3B dan shelter tempat
menunggu bus TJ hanya di sekitar Kopma UGM. Dengan bus itu, aku hanya
membutuhkan waktu sekitar 45 menit sampai di shelter yang berada di bandara,
dan sekitar 10 menit dari Shelter bandara ke Shelter Prambanan, dan sampai kini
aku masih menggunakan bus TJ jalur 3B itu.
Yang membuatku betah melakukan perjalananan itu, yang
hampir setiap hari kujalani adalah karena banyak hal-hal menarik didalamnya. Dulu,
ketika semester 1 aku selalu berangkat dari Prambanan menuju sekolah pukul 5.30
pagi dan karena terlalu pagi, ketika sampai sekolah jam di tanganku masih
menunjukkan sekitar pukul 6.15 pagi, bahkan suatu ketika aku pernah sampai
sekolah belum ada jam 6 pagi dan pintu gerbang sekolah belum terbuka. Alhasil
aku harus menungggu di depan gerbang beberapa saat. Lalu lambat laun, akupun
sering berangkat siang. Misalnya ketika aku berangkat dari Prambanan
menggunakan bus TJ yang berangkat pukul 6 pagi. Aku yang saat itu selalu
menggunakan bus TJ jalur 1A dan turun di Shelter Betesdha kemudian menunggu bus
TJ jalur 2B menuju Shelter YAP dan kemudian lagi menunggu bus TJ Jalur 3B
menuju Shelter Kopma UGM itu terpaksa harus berjalan kaki dari Shelter Betesdha
ke sekolah jalan kaki. Masalahnya, pada saat aku sampai ke Shelter Betesdha,
jam tanganku sudah menunjukkan pukul 6.40 pagi. Apabila aku menunggu bus 2B,
maka aku harus menunggu sekitar 10 menit agar sampai ke Shelter YAP dan itupun
kalau bus nya selalu on time, belum
lagi ketika bus jalur 3B baru saja lewat,
akupun harus jalan dari Rumah Sakit YAP ke sekolah dan membutuhkan waktu
sekitar 10 menit juga. Maka untuk mengurangi resiko telat masuk sekolah, lebih
baik aku jalan kaki daripada harus menunggu bus TJ yang kadang sering PHP itu. Tetapi, sekarang aku tidak
menggunakan jalur itu lagi, karena saran dari kakak kelas XII Agama yang sering
kupanggil Mbak Sera agar ketika berangkat sekolah aku ganti jalur 3A ketika
sampai di Shelter bandara.
Di saat perjalanan di dalam bus itulah aku mendapat
banyak ilmu sekaligus bisa lebih berinteraksi dengan orang lain. Misalnya, aku
bisa tahu bagaimana posisi yang baik ketika aku berdiri di bus TJ supaya aku
tidak terjatuh saat bus tiba-tiba nge-rem
mendadak ataupun saaat berbelok, mendahulukan penumpang yang sudah tua agar
mereka mendapatkan tempat duduk, bahkan akupun bisa berkenalan dengan Mbak
Sera, temanku yang bernama Salsa ( sampai saat ini aku masih naik TJ bersama), dan
Lita ( anak SMPN 8). Aku juga sering berbincang-bincang dengan sesama penumpang
bus TJ, dan hal seperti itulah yang paling mengesankan dan sulit dihilangkan
dari kebiasaanku.
Kejadian lucu pun juga sering kualami ketika menggunakan
bus TJ. Contohnya, pada suatu saat aku duduk di sebelah orang yang sedang
tertidur, dan sialnya kepala penumpang itu
menyadar di bahuku, jengkel sekali rasanya. Pernah juga ketika salah satu
penumpang bus TJ megira aku akan pegi ke Jakata menggunakan pesawat, karena
pada saat itu aku mengatakan bahwa aku akan turun di Shelter Bandara sehingga
bapak yang sudah tua itu mengira akan naik pesawat.
Tetapi, kadang naik bus TJ itu juga membuatku kesal. Misalnya
ketika bus tiba-tiba mogok, bus TJ yang datang tidak tepat waktu, dan ketika
bus TJ jalur 1A baru saja berangkat padahal saat ituaku baru saja sampai di Shelter
Prambanan. Ketika pulang akupun sering menuggu bus 2-3 kali kedatangan bus
karena bus yang sudah penuh penumpang dan yang paling menyebalkan adalah ketika
kondisi jalanan yang sangat ramai sehingga aku pun harus menuggu bus hingga 1
jam di shelter.
Sebenarnya masih banyak lagi kisah dalam perjalanku yang
ingin kutulis. Dari semua kisah yang aku jabarkan, tentang pahit manisnya perjalanku
ke sekolah, aku tetap setia melakukan aktivitas itu. Akupun pernah menuliskan
sebuah tweet yang bertuliskan, “berangkat dalam keadaan ngantuk, pulang
dalam keadaan capek. Indahnya sekolah, indahnya tangggung jawab”. Dan
kata-kata itulah yang sampai saat ini masih selalu aku jadikan sebagai pedoman
agar aku selalu bersemangat dalam menjalani hari-hariku sebagai seorang
pelajar.
Komentar