Kenali dan Pahami Bulan Muharram
Islam adalah agama rahmatan lil
‘alamin yaitu agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi seluruh alam.
Hal tersebut bisa terlihat dari keberhasilan dan kemajuan umat Islam dalam menyebarkan
ajaran Islam. Islam juga berhasil mengembangkan ajaran Islam. Tidak hanya ilmu
tentang ketauhidan saja, tetapi ilmu hitung, kedokteran, perbintangan dan
ilmu-ilmu lain juga ikut dipelajari. Maka dari itu, ilmu dalam Islam sangat
luas dan sangat menarik untuk dipelajari. Bahkan kejadian-kejadian yang ada di
dunia ini bisa dijelaskan hanya melalui Al-Qur’an saja. Tentunya kita merasa
bangga terhadap Islam. Salah satu kejayaan yang sudah diraih oleh umat Islam
adalah keberhasilannya dalam menetapkan kalender tahun hijriyah.
Bangsa Arab sebelum mengenal Islam
telah menggunakan kalender qamariah (kalender berdasarkan peredaran bulan).
Mereka sudah mengenal bahwa bulan Dzulhijah sebagai bulan haji. Hanya saja
mereka sama sekali belum memiliki angka tahun. Biasanya, acuan tahun yang digunakan
adalah peristiwa besar yang terjadi ketika itu. Misalnya saja tahun gajah, yang
didasari oleh adanya peristiwa serangan pasukan gajah dari Yaman yang dipimpin
oleh Raja Abrahah.
Sampai akhirnya ketika Umar Bin
Khattab ra. menjabat sebagai khalifah, Umar mengumpulkan para sahabatnya untuk
menentukan awal tahun bagi umat Islam. Dalam penentuan awal tahun tersebut, ada
beberapa usulan yang disampaikan dari para sahabatnya. Ada yang mengusulkan
untuk menggunakan acuan tahun bangsa Romawi, ada yang mengusulkan untuk
menggunakan acuan tahun masehi, namun usulan tersebut tidak disetujui oleh
Umar. Hingga akhirnya Umar bin Khattab mengumpulkan kaum Muhajirin dan kaum
Anshor untuk melakukan penetapan awal tahun. Dari beberapa usulan yang diterima
Umar, ia memilih usulan dari Ali bin Abi Thalib bahwa awal tahun ditetapkan
sejak Nabi Muhammad saw. hijrah dari Makkah ke Madinah yang bertepatan dengan
16 Juli 662 M dan tahun tersebut dinamakan tahun hijriyah.
Setelah
mereka sepakat tentang adanya tahun hijriyah, mereka melanjutkan musyawarah
tentang bulan yang akan dijadikan sebagai bulan pertama awal tahun. Pada
musyawarah itu, Utsman bin Affan ra. mengusulkan agar bulan pertama dalam
kalender hijriyah adalah bulan Muharram. Ada beberapa alasan Ustman bin Khattab
mengusulkan bulan Muharram sebagai bulan pertama dalam kalender hijriyah.
Pertama, bulan Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender masyarakat Arab
sebelum mengenal kalender hijriyah. Kedua, di bulan Muharram, kaum muslimin
baru saja melaksanakan ibadah haji di baitullah. Ketiga, munculnya tekad untuk
hijrah terjadi di bulan Muharram. Atas usulan dan alasan tersebut, Umar
memutuskan bahwa yang menjadi bulan pertama dalam kalender hijriyah adalah
bulan Muharram.
Ada
yang membuat beda antara tahun baru hijriyah dengan tahun baru masehi, bahwa di
tahun baru hijriyah tidak dirayakan dengan hura-hura penuh kesenangan, tetapi
lebih mengarah kepada renungan apa saja yang telah dilakukan pada setahun lalu,
berapa banyak dosa yang telah diperbuat dan harapan yang ingin dicapai untuk
setahun kedepan. Biasanya di hari terakhir bulan Dzulhijah sebelum menuju tahun
baru hijriyah dimanfaatkan untuk banyak beristighfar, banyak melakukan amalan
baik seperti sedekah, membaca Al-Qur’an dan sebagainya.
Setelah
melewati pergantian tahun hijriyah, kita akan memasuki tahun baru hijriyah dan
berada di bulan Muharram. Betapa beruntungnya ketika kita bisa menikmati bulan
Muharram ini dengan memperbanyak amalan kita. Karena di bulan ini amalan baik
yang kita lakukan akan mendapat pahala yang lebih spesial daripada bulan-bulan
yang lainnya. Bulan Muharram ini juga menjadi sangat istimewa karena termasuk
salah satu dari empat bulan suci dalam Al-Qur’an, yaitu Zulqaidah,, Zulhijjah,
Muharram, dan yang terakhir Rajab.
Bulan Muharram secara bahasa bisa
diartikan sebagai bulan yang diharamkan. Maksud dari kata haram tersebut adalah
bahwa pada bulan itu diharamkan atau dilarang untuk menganiaya diri sendiri
karena berbuat dosa di bulan Muharram dosanya akan lebih besar karena bulan Muharram termasuk salah
satu dari bulan-bulan suci dalam Al-Qur’an. Di dalam bulan Muharram juga
dilarang untuk melakukan peperangan. Allah swt. berfirman :
فَإِذَا انْسَلَخَ الْأَشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِينَ حَيْثُ
“Apabila telah
habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana
saja kamu temui mereka …” (Q.S. At-Taubah : 5)
Sehingga sebagian ulama berpendapat
bahwa adanya larangan berperang pada bulan-bulan suci tersebut, salah satunya
bulan Muharram. Tetapi jika perang tersebut dimulai sebelum bulan-bulan haram,
maka hal tersebut diperbolehkan.
Di
dalam kitab Ibnu Katsir, terdapat penjelasan bahwa dinamakan bulan Muharram
karena di dalam bulan tersebut memiliki banyak kemuliaan dan keutamaan.
Salah satu keutamaan bulan Muharram
adalah puasa. Nabi Muhammad saw. bersabda, “ Ibadah puasa yang paling baik
setelah puasa Ramadhan adalah berpuasa
di bulan Muharram.”
Meski puasa di bulan Muharram tidak
diwajibkan, tetapi mereka yang berpuasa di bulan Muharram akan mendapat pahala
yang besar dari Allah swt. khususnya pada tanggal 10 Muharram yang dikenal
dengan puasa ‘Asyura. Nabi Muhammad saw. bersabda yang artinya, “… Dan puasa di
hari ‘Asyura saya berharap kepada Allah agar dapat menghapuskan (dosa) setahun
yang lalu.”.
Bahkan beberapa hadits menyarankan
agar puasa hari ‘Asyura diikuti oleh puasa satu hari sebelum atau satu hari
sesudah puasa ‘Asyura. Alasannya, seperti yang diungkapkan oleh Nabi Muhammad
saw. bahwa orang Yahudi juga berpuasa pada bulan Muharram, tetapi hanya
berpuasa pada tanggal 10 Muharram (hari ‘Asyura) saja. Itulah mengapa Nabi
Muhammad saw. ingin membedakan puasa umat Islam dengan puasa umat Yahudi. Maka
dari itu, Nabi Muhammad saw. menyarankan umat Islam berpuasa pada hari ‘Asyura ditambah satu hari
sebelumnya atau satu hari sesudahnya ( tanggal 9 Muharram atau tanggal 11
Muharram).
Hari ‘Asyura juga sering disebut
sebagai lebaran anak yatim. Namun tidak ada dalil yang menguatkan pernyataan
ini. Karena kita diperintahkan agar selalu menyantuni dan membahagiakan anak
yatim setiap saat, bukan hanya pada saat hari ‘Asyura saja. Sehingga anggapan
adanya lebaran anak yatim hanya ajaran sesat yang harus diluruskan.
Amalan lain yang
bisa dilakukan ketika berada di dalam bulan ‘Asyura adalah dengan memperbanyak
dzikir, sedekah, memperbanyak membaca Al-Qur’an, berbuat baik kepada sesama
manusia dan amalan baik lainnya. Karena pahala yang akan diterima pada bulan
ini berlipat ganda.
Dari uraian di atas, dapat
disimpulkan betapa istmewanya bulan Muharram, mulai dari sejarah, tentang
keistimewaan bulan Muharram, dan keutamaan yang bisa dilakukan selama bulan
Muharram. Semoga kita bisa lebih meningkatkan ibadah kita kepada Allah. Bukan
hanya pada bulan Muharram saja, tetapi juga di bulan-bulan lain.
Oleh : Navi Risanti
Komentar