Ustadzah Aisya
Adit,
bocah polos yang setiap hari bekerja sebagai penjual kantong belanja di pasar,
mulai terbangun dari tidurnya ketika adzan Shubuh berkumandang. Dengan semangat
ia segera mengambil air wudhu dan bergegas menuju ke masjid. Ya, memang malang
benar nasib anak ini. Sejak umur 5 tahun ia telah ditinggalkan oleh ayahnya
yang meninggal akibat sakit keras. Ibunya yang hanya bekerja sebagai pencari
barang bekas membuat Adit terpaksa berhenti sekolah dan memilih membantu ibunya
mencari uang. Ia hanya bisa menumpu harapan besar dari Alifa, adik satu-satunya
yang sekarang duduk di kelas 2 SD. Adit tidak ingin adiknya ikut merasakan
kerasnya hidup, cukup Adit dan ibunya yang merasakannya.
Pagi
ini, Adit mengantarkan adiknya ke sekolah menggunakan sepeda usangnya. Ia pun
juga membawa kantong belanja yang nantinya akan dijajakan di pasar. Sampai di
sekolah Alifa, Adit dengan pandangan yang berkaca- kaca mengamati lingkungan
sekolah yang begitu ia dambakan. Seharusnya sekarang Adit duduk di kelas 5,
tetapi keadaan yang membuat semuanya berubah. Apalagi kehidupan di Jakarta yang
begitu keras. Setelah terdiam beberapa saat, Alifah yang dari tadi mengamati
kakaknya itu berkata, “ Mas Adit, kok malah diem aja? Lagi mikirin apa sih?”
Tanya Alifah dengan raut muka bingung. Adit pun kaget seraya berkata, “emm,
ngga kok, mas ngga mikirin apa-apa. Sekarang Alifah masuk ke kelas dulu sana,
mas mau berangkat ke pasar.” Tanpa berpikir panjang, Alifah segera mencium
tangan kakaknya dan segera masuk ke kelasnya.
Sampai
di pasar, Adit segera memarkirkan sepedanya dan mulai berkeliling pasar untuk
menjajakan kantong belanjanya.” Kantong sayur, kantong sayur, lima ribu, lima
ribu,” suara lantang Adit menawarkan dagangannya. Dengan mengabaikan rasa
lelahnya, ia terus menjajakan dagangannya hingga ke sudut-sudut pasar.
Hingga
akhirnya ia sampai di sebuah lorong pasar yang berada di dekat pembuangan
sampah. Hampir setiap hari ia menghampiri loromg itu. Di sana, teman-teman Adit
sudah menunggu seseorang. Tak lama kemudian, seorang wanita berjilbab dengan
membawa beberapa buku mendatangi mereka. Adit dengan cekatan segera mendatangi
wanita tersebut untuk membantu membawakan buku wanita tersebut dan sampailah
mereka di sebuah ruko kosong yang tak terpakai.
Ustadzah Aisya, wanita berjilbab
setengah baya itu segera mengatur para muridnya untuk belajar mengaji. Setelah semua murid sudah tenang, Ustadzah Aisya
mengawali pertemuan itu dengan salam dan segera membagikan Al-Qur’an dan Iqro’
kepada murid-muridnya sebagai bahan pembelajaran. Beliau membimbing Adit dan
teman-temannnya dengan penuh kesabaran dan kasih sayang. Itulah yang membuat
Adit dan teman temannya selalu nyaman belajar agama bersama beliau. Ya,
walaupun mereka tak bisa merasakan nikmatnya belajar di sekolah, namun
setidaknya ilmu agama bisa mereka pelajari di kelas yang sederhana ini.
Setelah pelajaran selesai, Ustadzah
Aisya segera menghampiri Adit seraya berkata, “Adit, ustadzah senang sekali
karena hari ini Adit bisa khatam Al-Qur’an. Nanti pukul 3 sore kamu datang
kesini lagi ya, Ustadzah Aisya ada hadiah spesial untuk kamu.” Dengan wajah
yang sumringah, Adit seegera menjawab,” terima kasih Ustadzah Aisya,” iapun
segera lari kegirangan hingga ia lupa mengucapkan salam kepada Ustadzah Aisya. Ia
pun kembali menjajakan dagangannya di pasar.
Tepat pukul 3 sore, Adit sudah berada di ruko
tempat ia biasa belajar mengaji. Mulanya ia sangat berharap kado spesial dari
Ustadzah Aisya. Namun rasa bosan pun mulai menghampiri karena Ustadzah Aisya
tak kunjung datang. Padahal jam dinding ruko telah menunjukkan pukul 5 sore,
Adit pun sampai tertidur di ruko tersebut. Ketika ia terbangun pun, tak ada
tanda-tanda kehadiran Ustadzah Aisya.
Hingga salah satu temannya datang menghampiri
Adit seraya berkata,” Adit, Ustadzah Aisya, Ustadzah Aisya” dengan nada panik.
Adit
pun tak tahu maksud dari pekataan temannya itu, ia pun bertanya,” maksudnya apa
Ton?”
Toni
segera menjawab pertanyaan Adit,” Ustadzah Aisya sudah tak ada, Ustadzah Aisya
meninggal tadi siang karena kecelakaan.”
Seketika
Adit langsung terdiam, tubuhnya bergetar lemas seraya perlahan-lahan air
matanya menetes melewati pipinya. Ia tak menyangka bahwa Ustadzah Aisya
meninggalkannya. Ustadzah yang mengajari Adit mengaji hingga ia bisa khatam Qur’an,
Ustadzah kesayangan Adit, yang selalu memberi wejangan kepadanya. Adit pun menyesal, karena di saat terakhir
bertemu dengan beliau, ia tak sempat mengucapkan salam dan mencium tangan yang
biasanya selalu Adit lakukan. Dan itulah yang membuat tangisan Adit semakin
menjadi.
Tanpa
Adit sadari, datanglah sosok lelaki paruh baya yang ternyata adalah suami dari
Ustadzah Aisya. Beliau mulai mendekatiku, duduk disebelahku dan menjelaskan
semua yang telah dialami Ustadzah Aisya hingga beliau meninggal. Akupun mulai
mengerti dan paham takdir seseorang akan kematian.
Setelah
bercerita panjang lebar, Ustadz Ibrahim berkata, “ Sekarang Adit sudah mengerti
kan? Bahwa semua sudah ada yang mengatur. Sekarang Adit berhenti menangis dan
ini, kado yang dijanjikan Ustadzah Aisya untuk Adit”.
Dengan
isak tangis Adit yang masih terdengar lirih, ia berkata,” Terima kasih Ustadz,
Adit janji ngga akan nangis lagi. Terima kasih juga untuk kadonya.”
“
Ya sudah, Ustadz pulang dulu ya? Masih banyak hal yang harus Ustadz lakukan di
rumah. Assalamu’alaikum Adit?,” pamit Ustadz Ibrahim.
“Wa’alaikumsalam
Ustadz,” jawab Adit dengan senyum beratnya.
Karena
tak sabar dengan isi kado itu, akhirnya Adit membukanya dan ternyata isi kado
tersebut adalah sebuah Al-Qur’an dan sebuah sarung. Lagi-lagi air mata itu
menetes lagi walaupun tadi Adit telah berjanji untuk tidak menangis lagi.
“Ustadzah
Aisya, aku berjanji akan selalu belajar lebih baik lagi meskipun bukan dengan
Ustadzah Aisya. Aku berjanji Ustadzah, aku berjanji,” ucap Adit disela
tangisnya.
Adzan Maghrib pun mulai berkumandang.
Adit segera menuju masjid yang berada di pasar untuk menunaikan shalat. Setelah
itu ia segera kembali ke rumah dan langsung meminta maaf atas keterlambatannya
pulang dan tak lupa, Adit juga menceritakan semua kejadian yang dialaminya
kepada ibunya.
Sebelum tidur, Adit merenungkan
segala kejadian yang dialaminya seharian ini. Sekarang, tak ada lagi Ustadzah kesayangan
Adit yang mengajari mengaji. Adit masih tidak percaya bahwa Ustadzah Aisya
pergi begitu cepat, namun ia masih ingat pesan Ustadz Ibrahim, bahwa segala
sesuatu sudah ada yang mengatur. Adit pun mulai tertidur.
Oleh : Navi Risanti
Oleh : Navi Risanti
Komentar