Melepaskan
Sebagian
dari kita tidak menyadari bahwa dalam kehidupan ini ada yang namanya
mendapatkan kemudian dapat kita miliki, tetapi kebalikannya kita harus
melepaskan dan hal itu bukan menjadi hak milik kita lagi. Hal seperti ini
sangatlah wajar, karena sesungguhnya apa yang kita miliki selama ini bukanlah
milik kita. Semua itu hanya amanah dari Tuhan yang memberi kepercayaan kita
untuk memiliki, merawat, dan menjaga. Sewaktu-waktu apa yang kita jaga selama
ini bisa saja pergi. Sudah semestinya kita harus bersiap-siap untuk menerima
semua kehendak dari Tuhan.
Melepaskan sesuatu memang terasa sulit,
apalagi jika hal tersebut sangatlah berharga bagi kehidupan kita. Ketika
seorang anak kecil mendapatkan hadiah berupa mainan yang sangat ia inginkan. Ia
akan menunjukkan ekspresi kegembiraan dan tanpa diperintah ia mulai bermain
dengan mainan itu. Dimanapun ia pergi mainan tersebut akan ia bawa. Setiap
bertemu orang lain ia berusaha untuk menunjukkan bahwa ia memiliki mainan yang
sangat bagus. Tetapi suatu saat, ia kehilangan mainan kesayangannya. Hal
pertama yang akan ia rasakan adalah kesedihan, lalu diikuti dengan tangisan,
mengadu kepada kedua orang tuanya, kemudian ia mulai mendapatkan ketenangan,
dan kemudian ia telah berhenti dari tangisannya.
Dari kisah tersebut dapat kita ambil
kesimpulan bahwa seseorang akan sangat merasakan kebahagiaan ketika telah
mendapatkan apa yang ia inginkan. Tetapi ketika suatu saat ia kehilangannya,
orang itu akan merasakan sedih, kekecewaan, bahkan hingga menyalahkan sesuatu
yang seharusnya tidak ia salahkan, Tuhan misalnya. Bahkan ada yang hingga
berbulan-bulan kesedihan itu masih hinggap di dalam hatinya. Lalu apa yang
membuat kita begitu sedih jika kehilangan sesuatu? Yaitu rasa bersyukur dan ikhlas. Selama ini kita banyak
yang melupakan kedua hal tersebut. Padahal jika kedua rasa itu telah tertanam
dalam pemikiran dan hati kita, rasa sedih yang kita rasakan ketika melepaskan
sesuatu yang ada dalam genggaman kita hanya sebagai angin lalu saja. Kita
sangat diperbolehkan untuk bersedih, tetapi tidak berlarut-larut.
Rasa syukur sangat membantu untuk
memperbaiki mindset kita dalam menilai
sesuatu. Ketika keinginan kita telah didapat, jangan pernah lupa untuk
bersyukur. Karena dengan bersyukur berarti kita telah menghargai apa yang telah
Tuhan berikan. Bersyukur juga dapat menunjukkan bahwa kita adalah orang yang
sangat beruntung karena kita bisa mendapatkan kesempatan untuk memiliki sesuatu
yang mungkin orang lain belum tentu mendapatkan kebahagiaan seperti apa yang
kita rasakan. Kemudian setelah bersyukur kita wajib mengingat sesuatu dengan
mengembangkan rasa ikhlas dalam hati dan pikiran. Kita harus mulai berpikir
bahwa ketika kita mendapatkan, itu artinya kita juga siap jika sewaktu-waktu
harus melepaskan. Pola berpikir ikhlas ini dapat menimbulkan pemikiran bahwa
selama kita mendapat amanah dari Tuhan untuk menjaga sesuatu, maka jagalah
sebaik-baiknya. Karena kita tidak akan pernah tahu kapan kira-kira amanah
tersebut akan diambil kembali oleh Sang Pemilik yang sesungguhnya. Oleh karena
itu, selagi kesempatan tersebut masih ada, jangan pernah membuat kekecewaan
terhadap amanah tersebut.
Ikhlas dan bersyukur yang dikombinasikan
secara tepat dapat menghasilkan suatu konsep pemikiran baru. Ketika
mendapatkan, maka ia akan bersyukur, ketika harus melepaskan, maka ia akan
ikhlas. Begitu seterusnya sehingga tidak ada lagi cerita dimana seseorang
terlalu belarut-larut dalam kesedihannya. Padahal mungkin saja, dengan kita
kehilangan sesuatu ada rencana baik yang telah dipersiapkan oleh Tuhan untuk
kehidupan kita selanjutnya. (19 November 2016)
Komentar