Ini Wajah Pendidikan Indonesia




Pernah mendengar hari pendidikan nasional diperingati setiap tanggal berapa? 2 Mei kan? Lalu untuk apa memperingati hari pendidikan nasional? Itu pertanyaan yang sampai saat ini membuatku bingung tentang pendidikan di Indonesia.
Dahulu, telah banyak pahlawan yang memperjuangkan pendidikan di Indonesia. Sebut saja Ki Hajar Dewantara dan R.A. Kartini. Dengan gigihnya mereka memudahkan jalan bagi bangsa Indonesia agar dapat merasakan duduk di bangku sekolah, agar mereka tidak mudah dipengaruhi dan dibohongi oleh para penjajah. Sudah tidak asing lagi, para pemuda Indonesia dahulu mempunyai kualitas yang mumpuni sebagai orang yang terpelajar. Mereka mampu membuat skema bagaimana membuat Indonesia terbebas dari kerangkeng yang dibuat oleh penjajah. Begitu terhormatnya mereka hingga namanya kini masih bisa kita kenal.
Sekian lama kemudian, seharusnya pendidikan di Indonesia semakin maju dengan berbagai dukungan teknologi yang menyertainya, sebut saja internet. Namun lihatlah pendidikan yang ada kini, sangat memprihatinkan. Misalnya saja untuk melaksanakan program pendidikan wajib 9 tahun, bahkan wajib 12 tahun, masih berjalankah? Sistem pendidikan yang carut marut, adanya instansi pendidikan yang korup membuat semakin menurunnya kualitas pendidikan di Indonesia.
Lihat saja dengan program kurikulum 2013 yang mulai diterapkan. Apakah sudah sesuai dengan keadaan masyarakat Indonesia? Mengikuti perkembangan teknologi memang harus selalu dilakukan agar kita tidak di cap sebagai orang GAPTEK. Tetapi yang harus digarisbawahi, tidak semua daerah di Indonesia yang mempu menyediakan semua fasilitas yang dibutuhkan untuk menunjang berjalannya kurikulum 2013 ini, atau pemerintah hanya melihat instansi pendidikan yang mulai haus akan teknologi sedangkan yang terbelakang semakin terkucilkan?
Berkenaan juga tentang UN yang hampir setiap tahun selalu diliputi oleh masalah-masalah yang mungkin bisa dibilang SAMA, sebut saja kebocoran soal UN, beredarnya kunci jawaban palsu dan dengan bodohnya kepolosannya para peserta ujian mempercayainya begitu saja. Di mana para muda terpelajar yang dahulu ku kenal? Pemerintah Indonesia seperti member acuan bahwa yang paling pintar adalah dengan nilai UN tertinggi, para guru dan orang tua juga selalu merasa bangga apabila murid atau anak mereka menjadi juara kelas. Sebenarnya, yang Indonesia butuhkan adalah nilai sempurnya ataukah pemahaman tentang Indonesia? Ingat, seorang pelajar boleh saja mendapat nilai yang baik, tetapi apabila dia tidak pernah tahu proses mengapa ia bisa mendapatkan nilai baik, apalah artinya? Berbeda dengan seorang pelajar yang mengilhami setiap proses belajar yang ia dapatkan di sekolah kemudian dia terapkan, pasti hasilnya akan lebih baik. Gengsi di Indonesia tampaknya sudah sangat berkembang pesat.
Lalu dengan mata pelajaran yang sangat mematikan itu. Bayangkan saja, anak SD kelas 1, beban tas yang ia bawa hampir setengah dari massa tubuhnya. Pelajar Indonesia terlalu dipaksakan dengan banyaknya mata pelajaran sehingga banyak dari mereka yang tidak menikmati indahnya proses belajar dan dengan paksaan dari berbagai pihak yang mengharuskan mereka menguasai semua pelajaran dengan baik. Guru saja hanya mampu menguasai beberapa pelajaran saja, sedangkan para pelajar? Pantas saja ada yang berkata bahwa sebenarnya murid itu lebih pintar daripada gurunya.
Itu segelincir saja tentang wajah pendidikan Indonesia dari sudut pandang seorang pelajar. Sebenarnya, untuk memaknai peringatan hari pendidikan nasional gunakan empat kata berikut : Lihat, dengar, rasakan, dan laksanakan.                                                

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisiku

LULUS MAK..........................

MAHABHAKTI IN ACTION (DAY 3)