Puisiku
KAU IBUKU
Karya
maha tinggi dari-Mu
Ciptakan
wanita setulus ibu
Rela
bertarung dengan maut
Berjuang
untukku hidup
Karenanya
aku ada
Merawatku,
menjagaku setulusnya
Memberi
cinta, kasih sayang yang utuh
Walau
gema tangisan sepanjang gelap
Telah
merebut waktu lelapmu
Tetap kokoh dengan senyuman
Ya,
semua hanya tuk emas tercintanya
Itu
aku
Ibu,
tempat nyaman tuk bersandar
Aku
dikucilkan sekalipun
Kedua
tangan itu selalu terbuka
Tanpa
pamrih dengan sekecup rasa sayang
Dekap,
rasakan hangat nafasmu
Serasa belaian surga dunia
Dengan halus katanya bertutur
Pesan kesan penuh isyarat
Terangkai indah sayup-sayup kala
Di setiap sujud dan
tengadah tangannya
Kudengar merinding di tengah malam
Tersirat
namaku nyata di antara
untaian puisi untuk-Mu
Bergetar seraya tertunduk haru
Hingga
tinta matanya jatuh tenggelam
dalam pengharapan
Isak
tangis lirih bagai melodi penyayat hati
Batin hanya mampu berkata
Inikah
anugerah terindah untukku ?
Buta
mataku melihat kau sedih
Bisu
mulutku ketika kau mulai marah
Tuli
telingaku mendengar kau kecewa
Kini,
kikuk dan mati rasa aku
Ya
Allah .....
Nikmat
mana yang ingin ku tolak
Sungguh
tak pernah ada niat
Yang
hingga kini
Masih
setia mentatihku berjalan
Melihatku
di ujung jalan dengan lambaian
tangannya
Menanti
hari-hari harapannya
Apalah
balasan terbaik untukmu ibu
Lautan
harta tak akan cukup
Apalagi
rasa sayangku ini
Masih
terlalu ranum untuk diadu
Apa
yang bisa aku lakukan, ibu?
Hanya
mampu menatap sayu wajahmu
Dengan
kerut dahi dan pipi itu
Terlihat
lelah
Tapi
wajahnya kan selalu cerah merona
Tapi
senyumnya kan selalu ikhlas merekah
Ini
aku, anakmu ibu
Bocah
nakal pencari dirinya
Hanya
mampu berharap ridho darimu
Membalas
sayang walau bagai debu kaca
Tulusku
hanya ingin kau menjadi saksi
Ketika kesuksesan telah menghampiri nasibku
Lihat,
dengar, rasakan
Kau ibuku
Komentar