Opiniku Tentang PEMILU
Assalamu’alaikum
…Kali ini aku akan mengeluarkan beberapa opiniku tentang politik yang ada di
Indonesia. Mungkin nanti pendapatkku berantakan dan sangat tidak beraturan.
Tetapi Indonesia adalah negara demokrasi kan? Jadi sah-sah saja aku
mengeluarkan pendapat di sini. Selamat membaca …
Berbicara
tentang politik, aku jadi tertarik untuk mengulas sedikit tentang PEMILU
yang dilaksanakan tanggal 9 April 2014
silam. Selama 2 minggu sebelum PEMILU berlangsung, diadakan kampanye yang
intinya memperkenalkan partai politik dan calon legislatif yang nantinya akan
dipilih oleh masyarakat Indonesia. Akan tetapi, menurutku para caleg terlihat sangat
agak bodoh apabila mereka hanya memperkenalkan
diri dan menyebarkan visi misinya kepada masyarakat luas pada saat kampanye
saja. Apabila menggunakan logika, mana mungkin masyarakat bisa memilih jika
mereka hanya diberi waktu yang singkat untuk mengenal caleg, apalagi dengan partai
yang lumayan, 12 partai..
Hmm…
suara motor yang sangat berisik sering kudengar kala sore di sekolah. Di TV
apalagi, setiap berita menampilkan berbagai macam model kampanye, dari yang
biasa-biasa saja sampai menggelar pertunjukan dangdut sebenarnya tidak
sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia. Apalagi mereka yang membawa serta
anak-anaknya untuk berkampanye, tahu apa anak sekecil itu tentang PEMILU? Lalu
rombongan kampanye itu juga merupakan salah satu penyebab macetnya jalan yang
kulalui ketika pulang sekolah. Pamflet dan baliho berjajar semrawut di
pinggir-pinggir jalan. O iya, ada yang membuatku menarik tentang kampanye
kemarin yaitu ketika aku menemukan semacam pamflet yang terpampang wajah
seorang perempuan yang mungkin usianya masih nuda, mencalonkan diri menjadi
salah satu caleg dengan foto yang bisa dibilang “narsis” dibalik kerudung
tipisnya. Aku pun tambah kaget ketika pamflet sebelahnya juga menampilkan wajah
yang sama tetapi tanpa menggunakan kerudung dan tetap dengan foto “narsis”.
Warna-warni model kampanye di Indonesia ini, agak geli juga untuk mengingatnya
kembali.
Aku
juga sempat kaget dengan istilah “serangan fajar” yang ternyata masih berlaku
di desaku. Sempat terbesit untuk menolaknya, tetapi ibuku terpaksa menerimanya
karena yang member masih tetangga dekat. Yasudah, akhirnya uang itu diberikan
kepada tukang pengangkut sampah yang setiap pagi mengambil sampah dirumahku.
Hitung-hitung amal jariyah, hehe.
Apalagi
setelah PEMILU dilaksanakan, ada salah satu caleg di desaku yang mendapat suara
tertinggi dan berhasil menjadi anggota legilatif, dengan bangganya membuat
pesta kalkun di rumahnya bersama tim sukses partainya. Miris sekali rasanya,
tetapi itulah wajah Indonesia kini, penuh dengan pro kontra.
Komentar